Novel Pembunuhan hal 40

bom

Joko, Aku Polisi

hal 40

Pesan papa dan mama kepadaku yaitu, ” Selalu hati-hati dan selektif mememilih teman. Yang penting dia suka denganmu dan tidak memiliki maksud lain, mau untuk di ajak berteman ya..sudah berarti dia berminat untuk bersahabat. Kalau dia memanfaatkan dirimu lebih baik berteman saja tidak lebih.” Aku mengerti maksudnya

Kakek dan nenek juga tidak keberatan aku bersahabat dengan Joko. Mereka berdua sudah lama kenal dengan keluarga Joko. Apabila dari keluarga yang identitasnya kurang jelas kemungkinan besar papa, mama, nenek, atau kakek tidak memperbolehkan aku bersahabat. Meski kadang aku bermain dengan ana-anak lain seusia di gang Putat Jaya II aku terlebih dahulu bertanya kepada Joko, siap dia! Aku tidak mau diriku terganggu dengan ulah mereka yang tdiak bertanggung jawab.

Bukanya aku apriori karena mereka tinggal di lokalisasi! Semua aku lakukkan demi menjaga diri. Karena Joko tinggal di gang jadi dia tentu lebih mengenal lebih dahulu daripada aku. Bertempat tinggal di pinggir jalan sehingga aku tidak terlalu tertarik bermain di gang. Ya..lokalisasi mesti hati-mati akan segala hal. Lingkungan seperti di Jarak dan di Dolly memang membutuhkan cara ektra keras bila ingin berteman. Dampaknya bila kita ngawur salah pilih teman, tidak jarang karena bisa berakhir di penjara. Salah satu temanku diajak minum dibar oleh temannya.

Tak lama kemudian empat petugas polisi menangkapnya termasuk temanku. Ternyata temanku tidak tahu kalau uangnya hasil menjambret. Seringkali kejadian seperti berulang-ulang di lokalisasi.

Di sekolah kami duduk berdampingan, bila di bandingkan dengan yang lain aku merasa dia lebih cocok bermain denganku. Kebetulan kami sama-sama menyukai olah raga sepak bola. Bila bermain sepak bola kami berdua menjadi tim bersama, kami berdua menjadi striker kembar. Teman-teman sekelas akan merasa minder bila bermain sepak bola kalau aku dan dia menjadi striker. Keakraban kami layaknya adik dan kakak.

Teman-teman sekelas menjului kami berdua ”kopi susu”. Tapi kami tidak marah dengan julukan itu. Kami anggp hal biasa saja. Toh..kami tetap akrab dengan teman-teman yang lain. Hampir setiap hari aku mengajaknya kerumah. Dua bulan kemudian aku merasa yakin kalau Joko bisa menjadi teman yang baik. Ketika hari minggu saat kami berdua di rumah, mama dan papa tertarik akan persahabatan kami. Papa dan mama tersenyum dengan sosoknya yang setara denganku. Mereka berdua mulai tertarik dengan sahabatku yang satu ini.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s