Novel Pembunuhan hal 125

an

Joko, Aku Polisi

hal 125

Selama perjalanan ke Surabaya semua membisu. Tak ada kata yang terucap. Hanya deru mesin bensin menghiasi pendengaran kami. Mata kami semua berkaca-kaca meninggalkan nenek di desa. Crist berulang menanggis keras, mama memeluknya agar tanggis mereda..

Papa dan mama lega akhirnya aku dan Crist bisa menerima hal ini.

”Crist pasti sering telephone nenek. Kalau bisa mau tidur iya ma” katanya manja kepada mama.

”Iya….boleh….mama akan menemani ngobrol sama nenek, mama di kira tidak sedih..!.” mama tersenyum lalu memeluk adikku. Ia sangat kehilangan meski bisa menerima.

Lagi-lagi mama tersenyum melihat Crist. Lalu ia tertidur dalam buaian mama. Perpisahan memang tidak mengenakan bagi siap saja. Siapa yang bisa menyangka dengan keputusan ini. Kepergian nenek kembali kedesa merupakan mimpi buruk bagi kami semua. Meskipun akhirnya kami bisa menerimanya.

Papa sedih dengan keputusan nenek tapi dia tidak bisa mencegahnya. Keputusan ini terasa berat untuk di tanggung. Benar-benar menyedihkan. Papa hanya bisa menanggis….Akupun menerawang jauh ke angkasa raya ..diselimuti awan biru tipis…sinar. mentari berubah warna sedikit menjadi merah tembaga.

Mentari segera tenggelam diganti dengan malam………dalam hati aku mengatakan aku sayang kamu nenek…selamanya……aku yakin seyakinnya kalau kepergian nenek tidak ada yang menduga…mungkin kepergian kakek mengingatkan akan masa lalu di desa. Aku mengunjunggimu…..aku sayang kamu nenekku tercinta……..

Selamat jalan nenek yang tercinta dedikasiimu tak aku hapus dari sanubariku.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s