Novel Pembunuhan Hal 214

acs

Joko, Aku Polisi,

hal 214

Dengan suara terbata-bata dia menceritakan segala permasalahan, unek-uneknya mulai awal dia bersahabat sampai menjadi “saudara” dan masalah keluarganya.

Dia memuntahkan semuanya sampai dia menangis lagi. Pak Hendri dengan tenang dan sabar mendengarkan ceritanya. Beliau menyimak serius cerita demi cerita. Pak Hendri tahu akan persahabatan mereka berdua dari pak Lukas. Setelah puas memuntahkan isi hatinya pak Hendri mengomentari dengan sedikit nasehat,

”Joko, kadang apa yang kita impikan, cita-citakan kadang tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Bapak bisa mengerti sekarang mengapa kamu menangis” dengan bersahabat beliau menepuk pundaknya berulang-ulang, Joko sedikit lega dengan nasehatnya. Lalu pak Hendri melanjutkannya

” Hidup adalah sebuah pilihan. Salah satu pilihan itu adalah kamu harus bisa hidup mandiri, tidak tergantung kepada orang lain. Jujur berani meraih sebuah cita-cita. Cita-cita bukan demi kamu saja tapi harus bermartabat bagi orang lain. Bagaimanapun juga hidupmu ada di tanganmu. Kalaupun kamu sayang sama John suatu saat nanti kalau kalau sudah berhasil hidupmu kamu bisa ke sana ke Jakarta atau dia bisa kemari. Jangan kuatir selama ada niat pasti ada jalan. Sejauh apapun jarak itu bisa kita tempuh asal punya nita, tekad, dan jangan lupa ada uang. Menurutmu bagaimana Joko?”

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s