Pengalamanku Yang Jujur

100_0544

Pengalamanku Di Lokalisasi menjaga parkir di parkiran milikku sendiri. Jadi aku pekerja juga bos untuk parkiranku karena selama ini aku kelola tanpa pernah memakai pegawai.

Aku jujur menulis ini, untuk apa aku bohong karena aku tidak mau bohong bukan masalah dosa namun aku takut sama Tuhan. Percayalah aku salah satu orang di dunia yang mengaku selalu bebruat jujur.

Aku ingin berbagi cerita untuk insprirasi untuk pembaca bahwa tidak semua orang ke lokalisasi berbuat dosa, jahat, buruk. Sekali tidak semua.

Begitu banyak cerita dan berita yang aku tulis dalam memoriku selama 35 tahun aku berdomisili di lokalisasi terbesar di dunia !!!!!!!!!!!

Aku rajin menulis segala hal yang menarik dan unik serta penting untuk diketahui oleh jutaan orang. Tidak ada bukti untuk membuktikan sebuah cerita itu.

Sekali lagi sulit dibuktikan karena hanya berdasarkan laporan lisan dari langganan, tamu, yang dekat tapi tak dikenal. Selama aku tinggal di lokalisasi jutaan orang telah aku temui dan ngobrol.

Beginilah salah satu cerita itu. Seorang langganan parkir cerita kepadaku dengan tetesan air mata menceritakan penderitaan batinnya. Dia bersama teman-temannya yang sedang melacur sedangkan dia sendiri menunggu di parkiran bersama aku.

Karena bentuk tubuhnya cacat di kedua kakinya yang diderita sejak kecil maka orang tuanya menitipkan ke salah satu saudara di desa. Orang tuanya malu memiliki anak yang cacat. Dia dipelihara hingga besar sampai SMP. Namun orang orang tua sering berkunjung di desa tersebut. Setelah dewasa dia memakai tongkat penyangga. Berkukit gelap namun ganteng.

Dia kuliah di Petra Surabaya mengambil jurusan ekonomi mungkin sekrang sudah lulus. Padahal dia anaknya orang terkaya di Jogja. kakaknya perempuan tidak akrab karena dipisah sejak kecil dan dia kulaih di Perancis.

Jadi dia SMA baru tahu kalau memili kakak perempuan cantik sayang kakaknya selalu menjauh kalau ketemu adiknya. Meski setelah SMA hidup serumah namun batinnya sakit hati dipisah dengan orang tua dan kakaknya.

Dia menceritakan dengan menanggis sampai aku ikut menanggis. Dia datang ke lokalisasi bukan mencari pelacur namun ingin ketemu orang yang bisa mendengarkan kisah sedihnya yang dia pendam selama ini. Dia jarang mengakui kalau dirinya anaknya orang kaya di Jogja.

Orang tuanya memiliki galeri batik terbesar di Jogja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s