Novel Pembunuhan Joko,Aku Polisi

ajsk

Joko, Aku Polisi

hal 5.

Kakek dan nenek juga membantu kami untuk mencerna sebuah kejadian yang tanpa sengaja kami melihatnya. Misalnya tawuran antar pengunjung bar ketika kami sedang pulang sekolah.

Mereka berdua tidak ingin anaknya terpengaruh sampai terjerumus ke lembah pelacuran atau tindak kejahatan. Orang tua mana yang anaknya ingin berprofesi pelacur atau bajingan? Aku yakin tidak ada kecuali orang tuanya gila!

Inilah sebuah kenyataan yang kadang memerlukan pertimbangan serius apakah kita tetap pada pendirian yaitu tinggal di sini atau memilih tempat lain yang lebih nyaman! Sebuah pilihan hidup merupakan cita-cita yang mulia bagi setiap orang. Pilihan harus kita buat mau atau tidak mau.

Kata orang bijak ,”Kita tidak bisa mengganti atau memindahkan lingkungan, tapi yang bisa kita lakukkan adalah menyesuaikan diri kita sendiri dengan lingkungan secara harmonis.” Kita memang tidak bisa memindahkan gunung atau pantai di mana rumah kita berada tapi kitalah yang menyesuaikan diri dengan lingkungan.

Hal ini menjadi pelajaran penting bagi kami berdua aku dan adikku selama berdomisili di sini. Kakek, nenek, papa, dan mama tiada henti selalu memberikan peringatan dini bila kami berdua berhubungan dengan siapa saja di sini. Maklum saja penduduk lokalisasi terdiri dari penduduk setempat, orang kost, dan pengujung bebas yang arti kerap kali berkunjung semaunya lalu pergi. Pergantian atau perpindahan orang yang berkunjung di lokalisasi mirip terminal!

Terutama papa dan mama tidak menginginkan anak-anaknya terpengaruh buruknya lingkungan lokalisasi. Kehidupan di dunia ini memang penuh dinamika layaknya air laut kadang pasang kadang surut tiada henti bukan berarti tidak ada cobaan misalnya Tsunami.

Advertisements

Novel Pembunuhan Joko, Aku Polisi

ahsw

Joko, Aku Polisi

hal 3.

Di lokalisasi lokasi terbaik bagi para bajingan kelas teri hingga kelas kakap menghambur-hamburkan hasil jarahannya, mereka berpesta pora di bar atau di wisma. Hal ini sudah menjadi rahasia umum bagi pelaku kejahatan bahwa hasil tindak kejahatan adalah untuk berpesta pora. Bila untuk usaha, di tabung justru akan menjadi malapetaka karena uang itu berasal dari tindakan yang salah, keliru. Kata mereka uang panas harus ditempatkan di tempat yang panas pula.

Polisipun kerap kali beroperasi secara diam-diam menangkap para pelaku yang menjadi target buruannya. Seringkali terdengar bunyi letusan di malam hari, yang berarti pistol menyalak keras berhasil melumpuh para pelaku buruanya. Para polisi memburu para penjahat yang meresahkan masyarakat. Bila mereka melawan maka pelor panas sebgai hadiahnya. Selama ini polisi selalu sukses memburu para penjahat di lokalisasi. Alasanya sederhana karena tidak tempat untuk melarikan diri.

Hal seperti ini hal biasa bagi penduduk sekitar dan menjadi bagian dari lokalisasi. Tidak ada rasa keheranan atau terkejut bila esok hari ada pemberitaan di media massa atau media cetak. Para bajingan adalah bagian dari lokalisasi,bagian kehidupan yang meramaikan suasana dan memberikan sensasi yang berbeda.

Ya….roda kehidupan di sini tiada henti dan terus bergelora siang dan semakin malam menjadi lebih meriah, lebih ramai, penuh pesta pora, kepentingan ekonomi di atas segala-galanya.

Hubungan antar tetangga menjadi tidak terlalu penting sebab uang menjadi nomor utama bagaimana dapat uang dalam semalam. Sepanjang malam sampai dini hari mirip pasar ramai sekali nonstops 24 jam!

Bisnis dunia malam memiliki tingkat perputaran uang sangat tinggi. Bisa di bayangkan kalau di bar atau cafe pelanggan minum bir beberapa gelas atau satu dua pitcher tapi di lokalisasi pelanggan bisa minum bir sampai berkrat-krat!

Novel Pembunuhan Joko, Aku Polisi

adsfsx

Joko, Aku Polisi

hal 2

Pemandangan tak biasa atau luar biasa selalu menghiasi kehidupan kami saban hari. Maklum saja kehidupan di sini(Jarak dan Dolly) sungguh berbeda dengan daerah lain!

Perbedaannya adalah kehidupan di sini jauh lebih hidup,ramai karena selain padat juga ramai pengunjung. Maka ada saja perkelahian antar preman di jalanan atau di gang tanpa alasan yang rasional, pengunjung lokalisasi sering mabuk-mabuk-an minuman keras di bar lalu tertidur di pinggir jalan, di pinggir selokan. Kalau malam hari tiba pelacur-pelacur cantik menjajakan dirinya tanpa malu di rumah-rumah bordir.

Namanya pekerjaan buat apa malu selama tidak merugikan! Itulah salah satu prinsip hidup pelacur. Mereka hadir untuk melayani sebaik mungkin dengan harapan para pelanggan kembali lagi. Pelayanan yang mereka berikan bukan menyakiti. Laki-lakilah yang mencari lalu menghampiri bukan pelacur.

Di lokalisasi terdapat beberapa bar, ada yang besar atau ala kadarnya yang buka setelah matahari tenggelam. Tak ayal lagi setiap malam musik dankdut berdendang keras beramai-ramai serempak menghiasi indahnya malam. Malam sebagai pertanda kehidupan malam segera bergegas meramaikan lokalisasi. Pelan namun pasti layaknya kelelawar beterbangan penuh riang gembira memenuhi gelapnya malam. Para pelanggan,pengunjung mendatanggi dengan berbagai tujuan. Aneka ragam maksud dan tujuan ke lokalisasi. Tidak semuanya negatif yang ada di perasaan pengunjung.

Ada klasifikasi pengunjung lokalisasi. Ada yang sekedar memuaskan rasa keingintahuan, ada yang senang berkunjung aktif bahkan ada yang memiliki selingkuhan dengan pelacur. Atau untuk menghabmbur-hamburkan uang hasil korupsi atau tindak kejahatan.
Penjual narkoba,pencopet,penipu,kadang ikut-ikutan menyusup meramaikan lokasi pelacuran. Khususnya penjual narkoba bekerja sangat hati menjual barang dagangannya.

Beberapa kali pihak berwajib berhasil menangkap pengedar dan penguna. Tapi bagi mereka tertangkap pihak berwajib adalah resiko. Mereka tak pernah jera, kejahatandi muka bumi tidak pernah berhenti selama mentari terbit dari timur!